04 Maret 2009

Minuman Isotonik: Berguguran di Tengah Jalan

Pertumbuhan dan potensi pasar isotonik sangatlah besar hingga triliunan rupiah. Tak heran, makin banyak pemain yang memperebutkan. Seperti apa persaingannya?


Dede Suryadi


Berbicara industri beverage alias minuman, kategorinya sangatlah banyak, mulai dari minuman berkarbonasi, berenergi, serbuk, teh siap minum, kopi siap minum, sari buah siap minum, susu siap minum, teh hijau siap minum, sirup, air minum dalam kemasan, hingga isotonik. Menurut Prayugo Gunawan, Direktur Penjualan dan Pemasaran PT Amerta Indah Otsuka (AIO) – produsen Pocari Sweat, mengutip data salah satu perusahaan riset, pasar minuman ini mencapai Rp 44 triliun di 2007. Sementara data 2008 belum tersedia. Nilai tersebut termasuk dengan pasar minuman isi ulang. Namun, ia menambahkan, bisa jadi angka itu berbeda dari yang dikeluarkan perusahaan riset lainnya.

Nah, dari sekian banyak produk minuman itu, isotonik termasuk yang cukup fenomenal pertumbuhan pasarnya. Bisa dibilang isotonik ini tergolong kategori baru di industri minuman. Seperti diungkap Ongkie Tedjasurya, Direktur Pengelola PT Mayora Indah Tbk. – perusahaan yang memproduksi dan memasarkan Vitazone – nilai pasar industri ini mencapai sekitar Rp 1,5 triliun. Sementara itu, Prayugo memperkirakan mencapai Rp 2,2-2,5 triliun di tahun 2008. Yang pasti, nilainya terus tumbuh dibanding tahun 2005 yang mencapai Rp 700-800 miliar, dan 2006 mencapai Rp 1,2 triliun.

Di kategori minuman isotonik, Pocari yang masuk ke pasar sejak 1989, dianggap sebagai pionir. Hanya saja, ketika Pocari hadir di negeri ini tidak serta-merta diterima pasar. Perlu waktu dan energi yang besar agar bisa eksis hingga menemukan momen kenaikan penjualannya tahun 2002-an. “Sebelum itu, kami berdarah-darah,” kata Prayugo mengenang. Wabah penyakit demam berdarah menjadi pemicu meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap Pocari. Maklum, ada dokter menyarankan para penderita deman berdarah untuk minum Pocari sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang. Maka, di awal tahun 2004, AIO memindahkan pabriknya di Malang, Jawa Timur, yang hanya memiliki kapasitas produksi 7 juta kaleng/bulan ke Sukabumi dengan kapasitas produksi dua kali lipat (14 juta kaleng/bulan).

Seiring tumbuhnya pasar minuman isotonik, banyak merek baru produk ini yang meramaikan pasar, baik yang diproduksi oleh perusahaan multinasional maupun perusahaan sekelas UKM. Malah, banyak produk yang berembel-embel sweat. Tak heran, nilai pasar industri isotonik ini makin cepat bertumbuh.

Tentu saja, tidak semua merek isotonik bisa bertahan karena adanya seleksi alami. Sebagian di antaranya gugur di arena kompetisi. Namun setidaknya, hingga saat ini ada beberapa mereka yang eksis selain sang penguasa pasar: Pocari. Sebut saja Powerade (Coca-Cola), Mizone (Danone), Vitazone, You C1000 varian isotonik (PT Djojonegoro), One Hundred Plus, Gatorade (Pepsi Cola) dan Fatigon Hydro Plus (Kalbe Farma).

Makin banyaknya merek yang memperebutkan pasar minuman isotonik, menurut Prayugo, tidak membuat merasa terancam. Sebab, pihaknya memiliki pemikiran, semakin banyak pesaing, semakin baik, karena akan membuat pasarnya lebih besar. “Ini terbukti semakin banyak pesaing bermain di kategori isotonik, Pocari masih tetap bertumbuh dan eksis,” katanya sambil menambahkan, penjualannya di 2008 tumbuh 30%-40% dibanding tahun sebelumnya. Hanya saja, kalau saat ini Pocari berada di posisi teratas di pasar minuman isotonik, bukanlah tujuan utama dan konsentrasi. “Fokus kami adalah mencari peluang lalu kami manfaatkan, optimalkan, sehingga pasarnya bertumbuh. Buat apa menjadi market leader tapi tumbuhnya hanya 3%-5%,” ia menerangkan.

Diakui Prayugo, Pocari tidak lagi bersaing dalam harga. Ia yakin, selama nilai dan manfaat yang diterima lebih tinggi dibanding biaya yang dikeluarkan oleh konsumen, maka konsumen akan lebih memilih produknya. “Kalau yang Rp 2.500 tidak ada benefit-nya, buat apa. Akan jauh lebih bermanfaat Pocari meski uang yang dikeluarkan hingga Rp 5.000,” ujarnya membandingkan. Toh, untuk mengimbangi minuman isotonik merek lain yang harganya lebih murah, AOI meluncurkan Pocari kemasan botol ke pasar, yang harganya lebih rendah dari Pocari kemasan kaleng.

Prayugo menambahkan, kapasitas produksi Pocari saat ini sudah digunakan 90%; sedangkan total produksi Pocari di atas 100 juta liter tiap tahun. Tahun lalu produksi Pocari sekitar 170 juta liter. Menurutnya, kalau ingin terus bertumbuh dan makin besar harus ada dua hal yang diperhatikan: pertumbuhan user (bisa jadi peminumnya sendiri) dan pemakaian (usage). Untuk meningkatkan usage, berarti distribusinya harus ditingkatkan. Adapun untuk meningkatkan user, berarti harus terus melakukan edukasi melalui jalur above the line ataupun below the line yang tahun lalu total bujetnya mencapai sekitar Rp 30 miliar. Berdasarkan data Nielsen Media, belanja iklan Pocari pada 2008 mencapai Rp 46,7 miliar atau turun dibanding tahun 2007 yang sebesar Rp 63,7 miliar (nilai dihitung berdasarkan rate card dari media).

Tahun 2009, ia menargetkan, pertumbuhan penjualan Pocari juga 30%, mengingat kondisi ekonomi saat ini. “Untuk consumer goods, tumbuh double digit itu sudah bagus, sebab pertumbuhan pasar hanya 15%-20%,” ujarnya seraya menyebutkan tahun ini pihaknya siap mengeluarkan Pocari varian 2 liter untuk family size.

Sementara itu, Patrisia Marlina, Manajer Merek Mizone dari PT Tirta Investama (Grup Danone), mengatakan, setelah tiga tahun bermain di minuman isotonik, Mizone diklaim Marlin berada di posisi kedua. Menurutnya, agar sukses di persaingan product, price, promotion dan place (4P) dalam marketing mix, haruslah dipikirkan dengan baik. Pihaknya selalu memikirkan bahwa produk yang ditawarkan kualitasnya harus bagus. “Apa yang kami tawarkan dan komunikasikan memang benar,” ujarnya. Ia menegaskan, Mizone yang ditawarkan di Indonesia memang rasanya enak, dan pemilihan rasa itu dilakukan setelah melalui riset 6 bulan-1,5 tahun. “Rasa Mizone di negara lain berbeda, mungkin orang yang bilang rasa di luar tidak enak,” ia mengungkapkan. Saat ini, Mizone mengeluarkan tiga rentang produk: orange lime, passion fruit, dan lecce lemon (yang paling akhir diluncurkan).

Mizone menyasar semua target – pelajar, pedagang, ibu rumah tangga, pekerja dan sebagainya. Memang, dalam komunikasi, Mizone menggunakan pelajar (mahasiswa) dan pekerja muda. Dalam iklannya yang digunakan dua segmen itu sebagai target inti Mizone. “Kami ingin menyeimbangkan body, mind dan soul konsumen. Maka itu, dalam iklan-iklan Mizone, selalu disampaikan tidak sepanjang hari orang mengalami saat-saat menyenangkan. Agar tetap selalu fresh, Mizone menjadi solusi,” katanya setengah berpromosi.

Dilihat dari belanja iklannya, Mizone tergolong paling agresif dibanding produk istonik lainnya. Nielsen Media mencatat pada 2008 belanja iklan produk ini mencapai Rp 105,5 miliar. Angka ini turun tipis dibanding belanja iklan di tahun 2007 sebesar Rp 119,3 miliar. Bandingkan dengan Pocari, yang tahun lalu hanya Rp 46,73 miliar, Vitazone Rp 29,14 miliar (turun dari tahun 2007 yang sebesar Rp 33,46 miliar), serta Powerade yang tahun 2008 belanja iklannya Rp 32,82 miliar (juga turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 53,86 miliar).

Sepertinya kalau dilihat dari data belanja iklan, para produsen isotonik ini bertempur hebat di tahun 2007. Terlihat pada tahun itu, nilai belanja iklannya tergolong tinggi. Namun pada 2008, mereka menurunkan tensi pertempuran di promosi dengan mengurangi bujet belanja iklan masing-masing. Ini hampir dilakukan oleh semua pemain isotonik.

Dengan belanja iklan yang paling besar, bagaimana pertumbuhan Mizone? “Maaf saya tidak bisa menyebut angka, waktu Mizone baru masuk pasar isotonik tumbuh triple digit,” ujarnya, dan secara rata-rata pertumbuhan Mizone dua digit hingga saat ini. Sementara itu, Vitazone, produk yang baru mulai dipasarkan sekitar dua tahun lalu, menurut Ongkie, pasarnya sejauh ini cukup bagus. Diakuinya, saat ini Pocari Sweat masih tetap menjadi nomor satu di industrinya. Nah, di pasar nasional, Vitazone menduduki urutan ketiga, tetapi di beberapa daerah Vitazone menduduki peringkat kedua.

Di Jakarta Vitazone memang masih kalah dibanding Mizone, karena Mizone dijual dengan harga relatif murah. Penetapan harga ini karena prosesnya berbeda. “Kami harus melakukan pasteurisasi dengan hot-filled lalu disegel, dan harga mesinnya di atas Rp 100 miliar. Jadi kami tidak bisa jual cuma Rp 2.000-an sebotol, ” ujar Ongkie memberi alasan.

Bagi Simon Jonatan, pengamat pemasaran dari Brandmaker, karena pasar isotonik tergolong kategori baru, maka edukasi sangatlah diperlukan. Wajar saja, para pemainnya menggenjot iklan besar-besaran. Namun menurutnya, itu tak cukup. Pasalnya, kalau mau produknya tetap eksis harus memiliki nilai pembeda dari produk sebelumnya, terutama sang pionir yang tetap mendominasi pasar. “Kalau enggak ada diferensiasi produk, tak mungkin bernapas panjang,” katanya mewanti-wanti. Tak heran, banyak merek produk isotonik yang berguguran di tengah jalan karena tak kuat lagi bersaing.


Reportase: Herning Banirestu dan Kristiana Anissa. Riset: Siti Sumariyati


Published on Majalah SWA, 4 Maret

Implementasi GCG di Mata Analis dan Investor

Bagi para analis dan investor, penerapan GGC oleh sebuah perusahaan mutlak dilakukan. Inilah emiten pilihan yang menerapkan GCG terbaik di mata mereka.

Dede Suryadi


Good corporate governance (GCG) bisa dijadikan tolok ukur untuk melihat kestabilan perusahaan. Pasalnya, di dalam GCG diterapkan aspek-aspek yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas dan fairness. Kadang, perusahaan yang sudah bagus atau establish sejak lama, tapi masih lemah dalam penerapan GCG, bisa rontok dalam sekejap. Kasus Enron dan Worldcom menjadi bukti yang tak terbantahkan.

Di sinilah perlu peran pihak lain dari luar perusahaan seperti investor publik, akuntan publik, para analis dan masyarakat yang bisa memberikan suatu keseimbangan pengawasan perusahaan. “Keterbukaan sangatlah diperlukan, terutama untuk melindungi kepentingan investor. Karena jika dirugikan, para pemegang saham juga yang akan terkena dampaknya,” kata Norico Gaman, analis PT BNI Securities.

Biasanya, perusahaan publik yang tidak menerapkan GCG dengan baik akan melakukan aksi korporasi yang tidak diketahui publik. Setelah mengalami kesulitan baru diumumkan kepada investor publik. Terkadang, dikatakan Norico, penerapan GCG pada perusahaan publik istilahnya seperti kosmetik belaka. Juga, laporan seoalah-olah dibuat sebagus mungkin, tapi saat mengalami krisis barulah terungkap borok-boroknya.

Perusahaan juga tidak menyampaikan informasi secara benar sesuai dengan fakta. Pihak manajemen terlalu memoles kinerja keuangan perusahaan sehingga perusahaan tersebut seperti mendapat keuntungan yang signifikan. “Sama yang dialami Bakrie & Brothers, mereka baru ketahuan menjaminkan sahamnya setelah mengalami kesulitan. Sebelumnya, manajemen perusahaan ini tidak menyampaikan informasi tersebut kepada publik,” ujar Norico memberi contoh.

Lalu, dalam pandangan investor dan analis, mana saja perusahaan publik yang dianggap telah menerapkan GCG dengan baik? Pertanyaan inilah yang kemudian dituangkan dalam survei yang dilakukan oleh Tim Riset Majalah SWA. Survei ini menjaring 100 responden yang terdiri atas para analis dan investor, baik investor individual maupun korporat -- seperti manajer investasi (fund manager).

Survei dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada para responden pada 10-28 November 2008. Dalam kuesioner tersebut, responden diminta menyebutkan emiten mana saja yang sudah menerapkan GCG. Lalu, mereka juga diminta menilai pelaksanaan dari aspek-aspek GCG perusahaan publik (emiten) itu, dengan memberikan skor 0-100. Nilai dari aspek-aspek tersebut kemudian dirata-ratakan sehingga hasilnya menjadi skor nilai GCG secara keseluruhan dari sebuah emiten.

Hasilnya? Dari sejumlah emiten yang ditanyakan kepada responden, terjaring 88 emiten. Hanya saja, perusahaan terbuka yang paling banyak disebut minimal oleh lima responden ada 26 perusahaan, yang kemudian mereka nilai dari lima aspek GCG tersebut. Yang menarik, meski sedang dalam sorotan karena masalah tata kelola perusahaannya, Bakrie Brothers dan anak usahanya, Bumi Resources, masuk dalam peringkat ke-25 dan 26 dalam survei SWA ini.

Urutan pertama ditempati Bank Mandiri. Urutan berikutnya, Astra Agro Lestari, Bank Niaga, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Unilever Indonesia, Astra International, United Tractors, AKR Corporindo, International Nickel Indonesia (Inco), dan Bank BNI -- urutan selengkapnya, lihat Tabel. Sebagai jawara nomor wahid, Mandiri meraih skor total 81,28. Aspek-aspek GCG yang menonjol dari bank ini adalah transparansi dengan skor 85,8, lalu akuntabilitas (88,1); responsibilitas (88). Sementara nilai aspek lainnya, independensi (69,7) dan fairness (74,7), masih kalah dari emiten lain. Terutama, dengan Unilever yang memperoleh skor tertinggi dalam aspek independensi, yaitu 78,8. Untuk aspek fairness, angka tertinggi diraih Bank Niaga (84).

Di peringkat kedua, PT Astra Agro Lestari, membukukan total nilai 81,27. Nilai ini berasal dari lima aspek GCG: transparansi 83,7; akuntabilitas 84,4; responsibilitas 82,7; independensi 76; serta fairness 79,6. Di peringkat ketiga, Bank Niaga membukukan nilai total GCG 81,17 dengan skor masing-masing aspek GCG adalah transparansi 83,5; akuntabilitas 80,3; responsibilitas 81: independensi 77; serta fairness 84.


Published on Majalah SWA

Bantuan Pembiayaan bagi Usaha Kaum Papa

Akhir-akhir ini, pembiayaan bagi usaha mikro makin marak dilakukan. Pemerintah sendiri sedang gencar menjalankan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Per Juni 2008, KUR yang telah disalurkan mencapai Rp 7 triliun. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2007, terdapat 44,6 juta unit usaha menengah mikro -- 91,26% dari total usaha -- di Indonesia. Ini menunjukkan betapa strategisnya usaha mikro dalam menopang perekonomian bangsa ini jika digarap lebih serius.

Nah, besarnya angka usaha kecil itu juga mendorong banyak pihak yang peduli untuk membantunya, tak hanya pemerintah. Sebut saja, Yayasan Dharma Bakti Parasahabat (Parasahabat), Baitul Maal Wat-Tamwill besutan Amin Aziz, dan micro financing services oleh Medco Foundation, yang memberikan pembiayaan bagi usaha kaum kecil dengan cara masing-masing.

Parasahabat didirikan oleh tiga sekawan mantan petinggi di Grup Astra, perusahaan otomotif terbesar di negeri ini. Mereka adalah T.P. Rahmat, Benny Subianto dan Palgunadi. Yayasan ini mengadopsi konsep Grameen Bank di Bangladesh yang digawangi Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006.

Dalam aktivitasnya, Parasahabat menjalankan program penyediaan modal kerja untuk usaha mikro, khususnya bagi kaum perempuan yang menjalankan usaha kecil, tapi tidak punya akses ke perbankan. Parasahabat memang membidik pelaku usaha mikro yang berpotensi, tapi belum tumbuh. Setiap perempuan yang tergabung dalam kelompok diberi pinjaman Rp 2 juta. Mula-mula hanya satu orang. Setelah satu orang ini berhasil, pinjaman akan dialihkan ke anggota kelompok lainnya. Makanya, keberhasilan anggota sangatlah mutlak bagi keberhasilan kelompok tersebut. Tak hanya sekadar memberi pendanaan, yayasan ini juga memberikan pembinaan agar kelompok tersebut sukses.

Pinjaman yang diberikan berupa kredit tanpa agunan. Pengumpulan cicilan dibuat mingguan. Bahkan, dikembangkan pula menjadi layanan kredit bulanan. Contohnya, orang yang semula hanya punya warung kecil kini sudah bisa memperluas warungnya atau membangun warung telekomunikasi. Aktivitas Parasahabat telah menjangkau 52 lokasi yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Perkembangan yayasan ini cukup pesat. Pertengahan tahun lalu, telah melayani kredit bagi 200 ribu perempuan pengusaha skala mikro.

Kemudian, Baitul Maal Wat-Tamwill (BMT) yang memberikan alternatif pembiayaan usaha mikro sejak 1995. Pembentukan BMT oleh Amin Azis -- juga pendiri Bank Muamalat Indonesia -- diawali di Jakarta, tetapi kemudian berkembang hingga ke seluruh Indonesia. Saat ini, jumlahnya lebih dari 3.000 BMT. Amin optimistis angka ini akan meningkat di masa-masa mendatang. Penulis buku The Power of Al-Fatihah ini memperkirakan, jumlah BMT di akhir 2008 bakal mencapai 3.700 unit di seluruh Indonesia.

Yang menarik, BMT dibentuk dengan urunan modal sendiri dari masyarakat, bukan dari pemerintah ataupun lembaga tertentu. Memang, maksud pembentukan BMT ini sejak awal adalah membantu usaha kecil, tapi dananya dari tabungan mereka sendiri. Dan, karena BMT didirikan oleh dan untuk masyarakat kelas bawah itu sendiri, modal yang terkumpul sering tidak banyak. Kendati demikian, BMT-BMT tersebut bisa sukses dan modalnya pun bisa menjadi berkali-kali lipat dibandingkan ketika awal terbentuknya.

Sebagai contoh, sebuah BMT di Lasem, Kabupaten Rembang, Ja-Teng, yang terbentuk tahun 1996. Pada awal terbentuknya modal BMT tersebut hanya Rp 3 juta, tetapi sekarang asetnya telah mencapai Rp 100 miliar. Lalu, BMT Maslahah Mursalah lil Ummah (MMU) di Sidogiri, Pasuruan, saat ini asetnya Rp 100 miliar lebih.

Diakui Amin, badan hukum dalam pendirian BMT ini adalah koperasi, yang telah dikenal oleh banyak orang sebagai self help organization (SHO). Pendirian lembaga seperti ini memang dimaksudkan untuk menolong perekonomian para anggotanya. Namun, Amin juga menegaskan, ada sedikit perbedaan antara BMT dan koperasi. “Berbeda sedikit dari koperasi karena BMT sifatnya lebih partisipasi, lebih digerakkan oleh masyarakat bawah dan mereka punya kesadaran yang lebih untuk berbuat baik kepada orang-orang kecil,” doktor lulusan Iowa State University AS ini menjelaskan.

Tata cara pelaksanaan BMT pun tidak berbeda jauh dari koperasi. Dalam suatu populasi masyarakat, ada kalangan yang perekonomiannya benar-benar kekurangan dan ada pula yang berkecukupan atau bahkan berlebihan. Kalangan masyarakat yang perekonomiannya berlebih itu menabung di BMT, dan uang tersebut dipinjamkan ke masyarakat yang perekonomiannya tergolong kekurangan untuk menambah modal usahanya.

Agar masyarakat yang perekonomiannya tergolong mampu tersebut mau menabung di BMT, pihak Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) turun tangan dalam hal memberikan motivasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk saling membantu sesama. Masyarakat diberi penjelasan tentang mengapa mereka harus beribadah dan membantu sesama, dalam hal ini beribadah dalam arti sosial dan bukan hanya dalam arti fisik.

Amin menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan Departemen Sosial sejak 2005 dalam rangka mendirikan BMT fakir miskin, yaitu BMT yang lebih ditujukan untuk fakir miskin. Dalam pembentukannya, dimulai dari menggalang dana dari fakir miskin, kemudian dilanjutkan dengan penggalangan dana dari kalangan yang berada dan dibantu juga oleh Depsos.

Sejauh ini di Indonesia ada 87 BMT fakir miskin yang tersebar di 17 provinsi, dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Maluku Utara. Akan tetapi, BMT secara umum sudah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dari NAD hingga Papua dan jumlahnya telah lebih dari 3.000 BMT. Meskipun didirikan berdasarkan ajaran syariah, BMT tidak terbatas hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim pun banyak yang menjadi anggota BMT. Dengan demikian, persaudaraan antaragama dan antarsuku juga menjadi lebih erat karena dalam BMT dibangun semangat saling menolong.

Tak ketinggalan, PT Medco Energy, melalui Medco Foundation, menyebarluaskan micro financing services (MFS). Pola ini juga mengadopsi prinsip bantuan usaha kecil oleh Grameen Bank. “Tak kurang dari 2.000 mitra usaha kecil yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, hingga Jawa Tengah yang telah bekerja sama dengan MFS,” ujar Arifin Panigoro, pendiri Grup Medco.

MFS tidak hanya berada di daerah operasi minyak dan gas yang dikelola oleh anak usaha Medco, tapi juga di daerah-daerah yang mengalami bencana alam sebagai bentuk bantuan pemulihan ekonomi warga setelah mereka melewati fase tanggap darurat, di antaranya di Aceh pascatsunami 2004 dan Bantul setelah gempa 2006. Dana yang digelontorkan perusahaan ini mencapai US$ 1,5-2 juta/tahun. Belum lagi dana dari kantor Arifin sendiri yang sedang mengembangkan pola kemitraan di bidang agrobisnis dengan petani.

Banyak lembaga/perusahaan yang melakukan pembiayaan untuk kaum papa ini sebagai bentuk kepedulian mereka. Dengan bantuan pembiayaan ini, pengusaha mikro yang kesulitan modal dapat terus mengembangkan bisnisnya. Dengan demikian, selain meningkatkan kemakmuran mereka sendiri, mereka pun mampu menyediakan lapangan kerja bagi orang lain, kendati dalam skala kecil.


Dede Suryadi, Herning Banirestu dan Kristiana Anissa
Riset: Siti Sumariyati


Published on Majalah SWA

Marhaban Yaa Taipan Arab...

Para investor asal Timur Tengah mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Sejumlah sektor bisnis jadi incaran mereka. Siapa saja mereka dan berapa dana yang akan dibenamkan di sini?


Dede Suryadi dan Tutut Handayani


Para pemilik modal asal negara-negara Timur Tengah belakangan rajin menyambangi Indonesia. Mereka tak lagi sekadar melawat untuk melihat kondisi negeri ini, tapi sudah dalam tahap menginvestasikan modalnya di berbagai lini usaha dengan nilai yang tak sedikit. Menurut data kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah,sampai akhir 2007 total investasi yang sudah diinvestasikan oleh para investor Tim-Teng untuk berbagai proyek infrastruktur, properti dan jasa keuangan di negeri ini mencapai US$ 3,3 miliar.

Dengan pencapaian itu, pemerintah pun makin bersemangat dengan menargetkan aliran investasi dari Tim-Teng pada 2008 mencapai US$ 5 miliar atau Rp 46,5 triliun. Dan, sepertinya target ini bakal tercapai, mengingat para investor kawasan penghasil minyak utama di dunia itu terus berdatangan ke negeri ini dan siap menggelontorkan fulusnya.Tak hanya di pasar modal, mereka pun menginvestasikan banyak dananya secara langsung ke pebagai sektor bisnis.

Dua tahun lalu, data investasi Tim-Teng ke Indonesia masih kurang memuaskan. Hingga Februari 2006, hanya ada tiga negara Tim-Teng yang berinvestasi di Indonesia cukup dominan, yaitu Yaman, Arab Saudi dan Libia. Nilai investasinya pun relatif kecil: Yaman US$ 600 ribu, Arab Saudi US$ 500 ribu dan Libia US$ 300 ribu. Iyang minim itu menjadi perhatian pemerintah. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu sempat khawatir melihat rendahnya investasi Tim-Teng ke Indonesia. Apalagi, sepanjang 2004-05 terjadi penurunan investasi dari Tim-Teng ke negeri ini.

Nah, sekarang keadaannya berbeda. Investor Tim-Teng berduyun-duyun menyerbu Indonesia. Bukan tanpa alasan mereka menghampiri negeri ini. Indonesia telah menjadi sasaran penting untuk melabuhkan investasi mereka. Para investor Tim-Teng ini melihat Indonesia sebagai negara yang berpotensi menjadi pasar yang besar di regional Asia karena jumlah penduduknya lebih dari 200 juta jiwa. Selain itu, Indonesia adalah negara Muslim terbesar sehingga berpotensi menjadi pasar produk bank syariah. Apalagi, menunjukkan kemajuan dalam bisnis perbankan syariah. Juga, sumber daya alam negeri ini masih berpotensial digarap, sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Hal lain yang mendorong orang Arab berinvestasi besar-besaran, khususnya di Indonesia dan negara Asia lainnya, di antaranya kelebihan dana (likuditas) setelah meroketnya harga minyak mentah dunia pada awal tahun ini. Maklum, kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi berupa 60% cadangan minyak dunia, dan 30% cadangan gas dunia. Naiknya harga minyak itu membuat negara-negara Tim-Teng makin diperhitungkan sebagai investor baru dunia. Bersama Rusia sebagai produsen minyak dan gas terbesar Eropa, Tim-Teng dianggap sebagai pemegang kapital dunia saat ini.

Di satu sisi, para pemodal Tim-Teng ini enggan berinvestasi di Amerika Serikat ataupun Eropa. Bukan karena AS sedang krisis seperti sekarang, tapi jauh sebelum itu, pasca-tragedi 11 September 2001, Pemerintah AS dan Eropa sering mencurigai dana dari Tim-Teng terkait terorisme. Salah satu contohnya, Agen Keamanan Nasional (National Security Agency) AS pernah memaksa perusahaan asal Uni Emirat Arab (UAE), Dubai Ports World, menjual sejumlah fasilitas pelabuhan utama AS ke perusahaan AS. Alasannya, demi memadamkan kekhawatiran terhadap kemungkinan aksi teroris.

Dengan kondisi seperti itu, para raja minyak mulai melirik , termasuk Indonesia. Asia merupakan pasar yang menjanjikan karena pertumbuhan ekonominya bersinambung dan serentak di sejumlah kawasan. Kondisi sosial politik di Asia pun dinilai cukup stabil.

Pemerintah Indonesia sendiri nampaknya sangat menyadari pentingnya para investor Tim-Teng dengan menyambut bola agar tidak lepas. Hal ini ditunjukkan dengan kunjungan SBY dan para menteri ke Tim-Teng serta diangkatnya Alwi Shihab sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Tim-Teng. Alwi mengatakan, salah satu alasan dirinya ditunjuk adalah untuk menghadapi para calon investor Tim-Teng yang berminat berinvestasi di Indonesia. Namun, para investor ini belum merealisasi minatnya karena terbentur dengan persoalan citra negara ini yang terkesan sangat tidak kondusif dan tidak friendlybuat investor asing. “Saya ini tugasnya untuk menyakinkan para investor asing dari Arab bahwa citra yang buruk itu tentang Indonesia itu tidak benar. Saya sampai door to doorkepada calon investor itu untuk menyakinkan bahwa Indonesia itu tidak seburuk yang mereka sangka. Dan, alhamdulillah, mereka berhasil saya yakinkan,” katanya bangga.

Alwi juga menjadi mediator bagi pengusaha atau perusahaan Indonesia yang ingin berbisnis di Tim-Teng. Contohnya, berdirinya perusahaan patungan antara Indonesia dan Iran, Hengham Petrochemical Company, yang memproduksi amonia dan urea dengan kapasitas 990 ribu metrik ton amonia dan 1.150.000 metrik ton urea per tahun di Iran. Perusahaan patungan bernilai US$ 750 juta ini hasil kerja sama antara Pupuk Sriwijaya, NPC Intenational, dan Petrochemical Industries Investment Company.

Dengan Maroko, akhir Desember tahun lalu konsorsium Indonesia yang terdiri atas Petrokimia gresik, Pupuk Kaltim, Bosowa Energi dan Medco Energy International telah menandatangani memorandum of understanding (MOU) dengan Office Cherifen Des Phosphate (BUMN pertambangan Maroko) untuk pembangunan pabrik pupuk fosfat berkapasitas 400 ribu ton senilai US$ 300 juta.

Menurut Alwi, hasil kerja sama dengan perusahaan Tim-Teng, di antaranya adalah berdirinya Al Ijarah -- perusahaan multifinanceberbasis syariah yang pertama di Indonesia. Ini hasil patungan Bobyan Bank, International Leasing and Investment Company milik Islamic Development Bank yang berpusat di Kuwait, dan Bank Muamalat Indonesia. Lalu, EMAAR, konsorsium beberapa perusahaan dari UEA, akan masuk ke Indonesia dan membentuk perusahaan patungan (85% saham EMAAR dan 15% perusahaan Indonesia) guna mengembangkan aset tanah milik negara di Lombok seluas 1.200 hektare yang akan dijadikan kawasan pusat pariwisata internasional. EMAAR sudah membenamkan dana US$ 600 juta dan pembangunannya direncanakan selesai dalam waktu 3-4 tahun mendatang.

Kemudian, LIMITLESS (Dubai World Group), perusahaan pengembang raksasa milik Pemerintah Dubai yang tengah melakukan finalisasi perjanjian kerja sama dengan Grup Bakrie dalam proyek Rasuna Epicentrum, Jakarta, yang akan menjadi pusat pengembangan bisnis terbesar di Asia Tenggara seluas 60 ha. Malah, perusahaan Grup Bin Ladin juga telah menambah kepemilikan sahamnya di Grup Bakrie lewat PT Bakrie dan Brothers Tbk.

Yang baru, Grup Al Baraka akan masuk ke bisnis perbankan syariah dengan cara mengakuisisi bank kecil. Dan, yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah Qatar Investment Authority, yang membentuk perusahaan patungan dengan Pemerintah Indonesia dengan modal awal US$ 1 miliar yang akan masuk ke bidang infrastruktur.

“Jangan salah lho, investor Timur Tengah yang masuk ke Indonesia itu investor-investor besar yang punya dana siap cair,” Alwi menegaskan.

Contoh lain, Ras Al Kheimah Investment Authority dari UEA. Perusahaan ini bakal mengembangkan terminal curah untuk menampung hasil pertanian, perkebunan dan pertambangan di Pelabuhan Tanjung Siapi-api, Sumatera Selatan. Rencananya, pembangunan dimulai tahun depan. Selain itu, ada Qatar Telecom (Qtel) yang telah membeli saham perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di negeri ini, Indosat.

Adnan Ahmed Yousif, Presiden &CEO Albaraka Banking, mengatakan kepada wartawan SWA sebenarnya pihaknya sejak 2,5 tahun lalu berencana membuka kantor cabang Bank Albaraka di Indonesia. Menurutnya, pemilik Albaraka Banking Group (ABG), Sheikh Saleh Abdulla Kamel, berniat berinvestasi langsung di industri perbankan Indonesia dengan cara membangun kantor cabang, selaiknya bank-bank asing yang lebih dulu hadir di Indonesia.

Grup ini tertarik berinvestasi di negeri ini karena hubungan perdagangan dan ekonomi antara Indonesia dan negara-negara Arab, termasuk Bahrain – lokasi kantor pusat ABG -- semakin berkembang. Hal ini mendorong sejumlah -lembaga keuangan Islam, termasuk Al Baraka, berniat berbisnis di Indonesia, terlebih mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. “Al Baraka ingin berpartisipasi dalam persoalan pembiayaan investasi atau pendanaan dan memberikan fasilitas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara Arab,” kata Adnan memberi alasan.

Namun, sayangnya, niat membangun kantor cabang bank dan mengoperasikannya langsung terbentur oleh peraturan Pemerintah Indonesia yang belum mengizinkan para investor asing membuka bank Islam di negeri ini. Karena itu, Al Baraka akhirnya hanya bisa membuka kantor perwakilan yang tidak berfungsi sebagai kantor bank, tapi untuk memfasilitasi proses investasi dan pembiayaan dari Indonesia ke Arab, dan sebaliknya.

Di Indonesia, ABG akan fokus pada pembiayaan sektor agroindustri yang bisa berupa joint venture. Total dana yang diinvestasikan sekitar US$ 5 miliar yang siap dikucurkan per akhir 2008. Dan, tidak menutup kemungkinan akan mengakuisisi beberapa bank kecil dan mengonversikannya menjadi bank syariah. Bank apakah itu? “Saya tidak bisa menyebutkannya karena sedang dalam proses studi kelayakannya,” ujar Adnan berkelit. Yang jelas, sampai saat ini, Albaraka sudah menjalin kerja sama investasi dengan Grup Bosowa untuk pendanaan berbagai macam proyek infrastruktur milik Bosowa.

Anita Avianty, Head of Corporate Communication -- GSM milik Saudi Telecom Company dan Maxis Communications Malaysia, menceritakan pengalaman membangun bisnisnya di Indonesia. Axis berhasil membangun lebih dari 200 base transceiver stationdi seluruh Indonesia dengan rata-rata pembangunan 80 BTS setiap minggu. Dan, dana sekitar US$ 1 miliar telah dibenamkan untuk proses mempercepat penetrasi pasar Axis di Indonesia sampai akhir 2008.

Diakui Anita, Axis memang menyasar konsumen pemakai telepon seluler yang menginginkan tarif percakapan yang murah dan terjangkau. Meski demikian, Axis tetap menjaga kualitas sinyal dan suaranya. Axis menawarkan sistem telekomunikasi seluler dengan tarif terjangkau, simpeldan transparan tanpa disertai syarat dan ketentuan yang tersembunyi. Hal ini sesuai dengan hasil analisis pasar tim Axis, bahwa masih ada 150 juta orang yang belum memiliki akses atas komunikasi seluler karena terbentur biaya. “Inilah peluang bagus yang dilihat oleh para pemegang saham Axis, sehingga mau berinvestasi di Indonesia,” ujarnya. Sekarang, ada beberapa wilayah yang menjadi titik sasaran agresif Axis, yakni Jabodetabek, Jawa, Banten, Bali, Lombok dan Sumatera Utara. Dan, Axis siap menjangkau seluruh wilayah Nasional pada 2009.

Adiwarman Karim, pengamat bisnis dari Karim Business Consulting, berkomentar, meski investari Tim-Teng sedang marak di sini, ada hal yang patut diperhatikan, yakni sampai sejauh mana likuiditas para investor Tim-Teng tersebut mampu bertahan. Pasalnya, para investor Tim-Teng itu diuntungkan sekali dengan melonjaknya harga minyak bumi sehingga memiliki dana yang sangat besar. Namun, sekarang harga minyak anjlok.

Lalu, reputasi para investor ini, terutama tim manajemen di belakangnya,juga patut dipelajari: apakah mereka memiliki profesional yang tepat dan berintegritas tinggi untuk mengelola dana mereka? Mengapa? “Karena para pemilik dana 'cair' ini menjadi sasaran empuk para fund manager. Namun, ciri para investor ini inginnya berinvestasi langsung di sektor riil, khususnya di Indonesia. Alasannya, bisa lebih memantau perputaran dananya,” ia menuturkan.

Terkait dengan pemantauan atau pengawasan, menurutnya, para investor Tim-Teng lebih senang membangun kantor perwakilan karena lebih bisa menghemat biaya operasional dibandingkan membuka kantor cabang seperti bank karena akan memerlukan dana dan SDM yang banyak. Untuk membuka kantor cabang bank di Indonesia, berdasarkan peraturan perbankan Indonesia saat ini, paling tidak harus punya 200 kantor cabang terlebih dulu. Sementara, untuk buka bank baru pun, harus punya modal sekitar Rp 1 triliun. Apalagi, sekarang ada pembatasan dari Pemerintah Indonesia untuk bank asing yang ingin membuka cabangnya di sini. Maka, pilihan yang paling menarik adalah mengakuisisi bank-bank kecil yang dikonversi menjadi bank syariah.

Intinya, yang patut dicamkan oleh para pengusaha Indonesia adalah sejauh mana komitmen para investor tersebut berinvestasi di Indonesia di saat negeri ini masih dikenal sebagai negara yang no investor friendly.Hal ini yang tertanam kuat di benak para investor, bukan hanya dari Tim-Teng, tapi dari negara mana pun.

Nah, stigma ini harus dikikis, terutama oleh pemerintah pusat maupun daerah dengan mewujudkan investasi mereka agar tak sekadar menjadi niat yang hanya baru sampai tahap MOU, tanpa ada kelanjutannya. Tentu saja, orang Indonesia harus membuktikan bahwa negeri ini friendly for investment. Salah satu caranya adalah dengan menjalankan birokrasi yang lebih lean, transparan dan beretika tinggi.

Riset: Arya Eka Nugroho


Published on Majalah SWA

Menelisik Industri Otomotif di Negeri Panda

Seperti negara lain, industri otomotif di Cina saat ini juga terkena imbas krisis. Bagaimana perkembangan dan masa depan pasar otomotif terbesar kedua di dunia ini?


Dede Suryadi


Depresi ekonomi yang melanda dunia saat ini berpengaruh kuat terhadap berbagai sektor. Tak terkecuali sektor otomotif di negara mana pun, termasuk Cina. Bisa dibilang, hampir semua perusahaan otomotif di Cina harus menghadapi masa-masa sulit. Namun, kondisi pasar otomotif di Cina relatif masih lebih baik, apalagi kalau dibandingkan dengan industri otomotif di Amerika Serikat.

Menurut data China Association of Automobile Manufacturers, pertumbuhan produksi dan penjualan otomotif di Cina dalam 11 bulan di tahun 2008 menunjukkan tren yang menurun hingga hanya satu digit. Bahkan, disebut-sebut sebagai yang pertama sejak 2006, pertumbuhan otomotif Cina di bawah 10%.

Kalau dilihat secara kumulatif, dari Januari hingga November 2008 Cina memproduksi 8,7 juta unit kendaraan atau naik 7,89% dibanding periode yang sama di 2007. Sementara, penjualannya sebanyak 8,63 juta unit atau naik 8,52%.
Dari total angka di atas, produksi mobil penumpang dari Januari hingga November 2008 mencapai 6,24 juta unit atau naik 8,38% dibanding periode yang sama tahun 2007. Dan, penjualan mobil kategori ini 6,16 juta unit atau naik 8,87%.

Pada November tahun lalu, produksi kendaraan di Cina hanya 686 ribu unit atau turun 2,68% dibanding bulan sebelumnya atau turun 18,14% dibanding periode yang sama di 2007. Sementara penjualannya di November 2008 itu 685.100 unit atau turun 15%. Segmen kendaraan niaga mengalami kemerosotan penjualan 26% menjadi 162.300 unit, sedangkan penjualan di segmen mobil penumpang (passanger car) terkoreksi turun 10% menjadi 522.800 unit. Penurunan ini tentu saja karena dipengaruhi melemahnya permintaan pasar. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Tak mengherankan, seperti halnya sejumlah pabrikan otomotif di AS yang meminta bantuan dana talangan dari pemerintahnya, kalangan pabrikan di Negeri Tirai Bambu itu ternyata pernah melakukan hal yang sama. Menurut Bloomberg, pada ajang Guangzhou Auto Show 2008, pabrikan mobil lokal di Cina mendesak pemerintahnya untuk memberikan insentif berupa potongan pajak, penurunan harga bahan bakar minyak, dan dukungan kebijakan untuk mengembangkan kendaraan ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga mengharapkan memperoleh porsi paket stimulus ekonomi dari pemerintah, yang secara keseluruhan bernilai 4 triliun yuan atau setara dengan US$ 500 miliar.

Hingga sekarang, terdapat beberapa pabrikan otomotif besar di Cina, antara lain, Shanghai General Motor Co., FAW Volkswagen Automotive Co., Shanghai Volkswagen Co., Chery Automobile Co. Ltd., Guangzhou Honda Automobile Co., Dongfeng Nissan Passenger Vehicle Co., FAW Toyota Motor Sales Co., Beijing Hyundai Motor Co., Geely Group Ltd., dan Dongfeng Peugeot Citroen Auto Co. Sementara itu, pasar otomotif di Cina dalam beberapa tahun terakhir ini dikuasai GM dan VW. Menurut data yang dilansir Chery, pada 2007, Shanghai GM menguasai 9% pangsa pasar, sedangkan Grup VW, yaitu FAW VW sebesar 8,9% dan Shanghai FW 8,6%. Sebenarnya, jika digabungkan, Grup VW adalah penguasa terbesar otomotif di Cina. Kemudian, di posisi keempat adalah Chery yang menguasai 7,4%, menyusul Guangzhou Honda 5,4%, Dongfeng Nissan 5,1%, FAW Toyota 4,9%, Beijing Hyundai 4,3%, dan Geely 4,1%.

Berdasarkan kelompok bisnis, China Automotive Review mencatat ada 16 kelompok besar grup bisnis otomotif di negeri ini. Grup bisnis otomotif ini ada yang menggandeng pabrikan otomotif dari luar dan ada juga yang berdiri sendiri. Seperti pada 2007, berdasarkan penguasaan pasarnya per grup, Shanghai Automotive Industry Corporation yang bermitra dengan GM dan VW berada di urutan pertama dari sisi penguasaan pasar. Berikutnya menyusul Fisrt Automobile Group Corp. yang bermitra dengan VW, Toyota dan Mazda, serta Dongfeng Motor Corp. (PSA, Nissan, Renault, Honda). Sementara, yang tidak berafiliasi dengan pabrikan otomotif dari luar, di antaranya Chery Automobile Co. Ltd., Gelly Holding Group, dan Hafei Automobile Co. Ltd.

Total penjualan dari ke 16 kelompok bisnis omototif Cina ini mencapai 8.802.093 unit pada 2007 atau tumbuh 21,9 % dari tahun sebelumnya yang sebesar 7.221.613. Angka penjualan ini merupakan gabungan dari total penjualan berbagai jenis kendaraan yang terbagi dalam tiga kategori: passenger vehicle, commercial vehicle dan heavy duty vehicle.

Seperti diungkapkan Jusak Kertowidjojo, Vice President Director dan Chief Operating Officer Grup Indomobil, penjualan otomotif terbesar dunia adalah AS, yakni sekitar 16 juta unit per tahun. Lalu, Cina 8 juta dan pada 2008 ditargekan mencapai 10 juta unit. Posisi selanjutnya adalah Jepang sebanyak 6 juta, dan Jerman 4 juta unit. “Cina memegang peranan penting dalam industri otomotif di dunia,” kata Jusak menegaskan. Ini pula yang membuat Indomobil menjadi agen tunggal pemegang merek dua mobil Cina, yaitu Chery dan Foton, di Indonesia dan kini sudah memasarkannya.

Kedua merek yang diageni Indomobil itu tergolong merek yang andal di negaranya. Chery, misalnya, kalau dilihat berdasarkan penjualan per merek, berada di posisi keempat, sementara per kelompok bisnis di posisi ketujuh karena merek ini mengkhususkan diri pada produksi mobil penumpang. Total penjualannya pada 2007 mencapai 381 ribu unit, dan selama 9 bulan pertama tahun 2008 Chery masih menduduki peringkat pertama di antara perusahaan otomotif domestik lainnya dengan mencatatkan penjualan 275.796 unit.

Kalau dilihat dari volume ekspor, Chery adalah pengekspor mobil penumpang terbesar dari seluruh pabrikan di Cina sejak 2003. Di 2007, misalnya, Chery mengekspor 119.800 unit. Dan, dalam 9 bulan pertama tahun 2008, jumlah ekspornya 115.494 unit atau menguasai 50% pasar ekspor kendaraan di Cina secara keseluruhan.

Saat ini Chery diekspor ke 60-an negara, termasuk Indonesia sejak 2006. Chery masuk ke negara lain tak sekadar menjual, tapi juga mendirikan pabrik perakitan. Di Indonesia, pabrik perakitan Chery berada di Pulau Gadung, Jakarta. Saat ini, Chery mengejar pangsa pasar yang lebih besar lagi. Apalagi, dengan telah dioperasikannya pabrik ke 8 Chery di luar Cina, yakni di Malaysia. Chery berencana membangun dua pabrik lainnya di luar Cina.

Sonja Kurono, Direktur Departemen Promosi Merek Chery, menjelaskan, perusahaan ini didirikan pada 18 Maret 1997 oleh Pemerintah Provinsi Anhui yang menjadi pemilik tunggal Chery hingga saat ini. Dua tahun kemudian, Chery berhasil meluncurkan mobil pertamanya. Dalam perjalanannya, pada 16 Juni 2001 Chery berhasil memproduksi 10 ribu unit dan pada Maret 2006 sebanyak 500 ribu unit. “Pada 22 Agustus 2007 kami berhasil memproduksi 1 juta unit,” kata ekspatriat asal Jerman itu. Sekarang, Chery memiliki lebih dari 10 varian produk, mulai dari sedan, sport utility vehicle (SUV), city car dan multi purpose vehicle (MPV). Di Indonesia , produk Chery yang sudah dipasarkan UPM adalah Chery QQ (city car) dan Tigo (SUV).

Adapun mesin yang dipakai pabrikan ini adalah Chery Acteco, mesin produksi Chery sendiri hasil kerja sama dengan AVL Austria. Di Cina, Chery menjadi produsen mesin mobil terbesar kedua. Pembuatan mesin Chery ini menggunakan tangan-tangan robot yang didatangkan dari Jerman dan Italia untuk menjaga kualitasnya. Pabrik Chery yang berada di Kota Wuhu, Provinsi Anhui, seluas 200 hektare tersebut per tahun mampu memproduksi 650 ribu unit kendaraan, 400 ribu mesin, dan 300 ribu gearbox.

Sejak Maret 2006, mesin Chery Acteco diekspor ke AS, yang disebut-sebut sebagai mesin mobil produk Cina pertama yang diekspor ke Negeri Abang Sam itu. Bahkan pada 31 Oktober 2006, Chery dipercaya memasok mesinnya yang berkapasitas 1600 cc dan 1800 cc ke Grup Fiat Italia. Setahun kemudian, kedua perusahaan melakukan joint venture untuk memproduksi dan mendistribusikan kendaraan milik Fiat bermerek Alfa Romeo dan Fiat, serta mobil di bawah merek Chery. Kerja sama ini akan dimulai pada 2009 dengan estimasi produksi 175 ribu unit/tahun.

Selain Fiat, Chrysler pun menggandeng Chery untuk memproduksi mobil sub compact bermerek Chrysler untuk dipasarkan di Amerika Utara, Eropa dan pasar otomotif utama lainnya. Kedua perusahaan ini juga bekerja sama mengembangkan produk-produk baru yang bisa berkompetisi di tingkat global. Dengan sejumlah reputasi itu, Chery pada 2008 mendapatkan penghargaan dari Majalah Fortune dan Hay Group sebagai salah satu perusahaan Cina terkemuka. Chery menerima penghargaan ini untuk ketiga kalinya seejak 2006.

Bagaimana prospek industri otomotif Cina di 2009? Menurut Automotive Resources Asia, unit bisnis J.D. Power, sejumlah eksekutif dari produsen utama mobil di Cina meramalkan, pertumbuhan penjualan mobil penumpang di 2009 ini kurang dari 5%.

Padahal, tahun 2007 pertumbuhan mobil penumpang tersebut mencapai 21%. Namun, pertumbuhan penjualan pada 10 bulan pertama di 2008 melambat hingga 10% dibanding periode yang sama di tahun 2007. Hal ini akibat krisis yang terjadi baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Sementara di tahun 2009 ini penjualan segmen kendaraan ini diprediksi kurang dari 6 juta unit atau lebih kecil dari pencapaian di tahun 2008.

Namun, para pelaku industri otomotif di Negeri Panda ini optimistis, pasar otomotif Cina masih tetap cerah karena potensi pasar di dalam negeri masih tergolong kuat.***

Published on Majalah SWA

Sang Pionir Sayuran Organik di Pulau Dewata

Nama Golden Leaf Farm yang didirikan Johannes H. Hassannusi cukup tersohor sebagai produsen sayuran organik di Bali. Pasarnya pun tembus hingga ke luar negeri.

Dede Suryadi dan Silawati


Sebuah papan nama kecil bertuliskan Golden Leaf Farm (GLF) di ujung sebuah jalan berbatu yang menuju lembah di Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali. Saat memasuki kawasan GLF, tampak rumah-rumah kaca yang berjejer rapi. Di depan tiap rumah kaca tertulis jenis tanaman dan tanggal penanaman. Di sebuah bangunan terbuka terlihat beberapa pekerja wanita tekun memilih hasil panen sayuran yang dibawa pekerja laki-laki dengan gerobak dorong.

Terlihat pula kesibukan para pekerja lain yang sedang mencuci bersih sayuran di bawah kucuran air. Kemudian, sayuran tersebut dibawa ke meja lain, tempat untuk memasukkannya ke dalam kemasan plastik berlabel “Golden Leaf Farm – food organic”. Setelah itu, sayuran ditempatkan di boks-boks plastik untuk pengetesan kualitas sebelum dikirim ke pelanggan, seperti hotel berbintang, restoran dan supermarket. Semuanya dikerjakan nyaris tanpa suara, hanya gemericik air dan suara binatang hutan yang terdengar.

Nampak juga Johannes H. Hassannusi (50 tahun), pemilik GLF, di kawasan tersebut. Silawati dari SWA memasuki aula terbuka yang biasa dipakai sebagai tempat pertemuan tamu yang mengunjungi GLF. Minuman hangat pun disuguhkan dari sebuah teko transparan. Sebelumnya, Jo -- panggilan sehari-hari Johannes H. Hassannusi -- memasukkan segenggam dedaunan dan memetik beberapa lembar daun mint, dimasukkan ke dalam teko itu. Bila memerlukan pemanis, Jo menunjukkan tanaman yang daunnya terasa manis.

“Mengonsumsi makanan sehat bukan tren, tapi sudah merupakan kebutuhan,” ujar Jo memulai percakapannya. Menurutnya, penggunaan pestisida kimia yang tidak terkontrol dan rekayasa genetika yang dilakukan lewat transgenic hasil pertanian yang dikonsumsi masyarakat sebenarnya tidak layak lagi karena mengandung racun.

“Saya tidak ingin uang yang bertahun-tahun kita cari lewat kerja keras, akhirnya tidak bisa dinikmati karena harus habis untuk membeli obat-obatan dan membayar rumah sakit nantinya,” ia mengungkapkan. Makanya, makanan yang dihasilkan secara organik, menurut Jo, merupakan jawaban tepat untuk mendapatkan makanan sehat itu.

Kesadaran Jo untuk mengonsumsi makanan sehat terpupuk saat dirinya kuliah di Jerman pada awal 1980-an. Saat itu, Jerman sedang gencar-gencarnya menerapkan filosofi kembali ke alam. Ini akibat ditemukannya pangan beracun dan pengadopsian teknologi yang tidak layak pakai. Apalagi, kemudian air tanah di negara ini tercemar pestisida. Efeknya, pertanian dihentikan sementara dan pemerintah memilih membeli hasil pertanian dari negara lain.

Namun, di sisi lain, rumah-rumah pertanian di negeri tersebut harus tetap hidup karena merupakan sumber mata pencarian penduduk. Sebagai jalan keluarnya, pemerintahnya kemudian memanfaatkan tanah-tanah pertanian tersebut sebagi objek wisata berlibur sambil bercocok tanam tanpa pestisida, serta terus memperbaiki kondisi tanah dan air hingga bebas racun. Sejak saat itu, mulailah diterapkan pertanian organik secara masal.

Kebijakan pemerintah Jerman ini sangat menarik perhatian Jo dan menjadi obsesinya, yaitu memadukan pertanian dengan pariwisata. Kendati berlatar belakang pendidikan teknik dan manajemen, akhirnya ia memutuskan menggeluti bidang pertanian dengan mengajak salah seorang temannya yang mempunyai misi sama untuk mendirikan Bio Land di Lembang, Jawa Barat. Di atas lahan seluas 1,7 hektare, Jo mulai berbisnis pertanian dengan menanam buncis dan brokoli yang dipadukan dengan pariwisata. Ini terjadi pada 1997.

Alasan Jo sederhana: sebagai orang yang pernah belajar ekonomi, ia melihat ada peluang besar di lahan pertanian sayuran yang belum digarap secara profesional. Namun, ia mengakui awalnya belum bisa menerapkan pertanian organik karena harus melakukan perubahan lahan dulu, dari non-organik menjadi lahan organik, dengan cara memperbanyak mikroorganisme, memanfaatkan limbah pertanian menjadi makanan ternak, kemudian mengolah kotoran ternak menjadi kompos. Selain itu, ia juga harus melakukan pemuliaan bibit yang harus dilakukan secara organik, sehingga hasilnya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan sebagai produk organik.

Hasil perdana buncis dan brokoli yang dihasilkan Bio Land mulai dipasarkan. Sayuran level A bisa langsung menembus pasar ekspor Singapura, dan level B dipasarkan ke berbagai katering di Jakarta dan Bandung. Sementara level C dilempar ke Pasar Caringin, Bandung.

Jo pun merasa bersyukur, di tengah krisis yang berkepanjangan menimpa Indonesia saat itu, ia bisa memilih pertanian sebagai profesi barunya “Paling tidak saya bisa mempekerjakan banyak orang,” ujarnya bangga. Bahkan, Jo juga mulai membentuk petani-petani plasma di sekitar areal pertaniannya.

Nah, suatu ketika saat mengunjungi keluarga sambil berlibur ke Bali tahun 1990, kelahiran Surabaya ini menemukan lokasi yang dianggap cocok untuk agrowisata organik. Letaknya di atas Danau Buyan dan Danau Tamblingan serta tidak jauh dari kawasan wisata Danau Beratan, Bedugul, dan merupakan jalan alternatif menuju kawasan wisata Lovina di Singaraja. Di wilayah ini, penduduknya kebanyakan menjadi petani kopi dan bunga hias. Yang menarik, tanah dan air di wilayah ini belum tercemar pestisida. Itu yang membuat Jo tertantang untuk mengembangkan pertaniaan organik di kawasan tersebut.

Untuk mewujudkan impiannya itu, ia menggandeng Inge Tejajuana yang dikenalnya saat kuliah di Jerman. Maka, keduanya membuat agrowisata organik GLF di atas lahan seluas 10 ha. Sebagai pionir produk organik di Bali, Jo mengakui GLF mempunyai pengalaman cukup pahit karena harus menghadapi masalah harga melawan produk non-organik yang selama ini dikenal pasar.

Baru setelah dua tahun berjalan, bisnis GLF mulai survivedan berkembang. Tengok saja, pada awal beroperasi GLF hanya memproduksi 12 jenis sayur organik, sekarang tidak kurang 70 jenis sayuran dan herbal organik yang berhasil dilemparnya ke pasaran dua kali seminggu.

Dibantu 80 karyawan, Jo rutin memasok 12-15 ton produk organik senilai Rp 180-200 juta/bulan untuk hotel dan supermarket di seluruh Bali. “Itu pun hanya bisa memenuhi 40% dari permintaan pasar,” kata Jo blak-blakan.

Ia merasa kesulitan memenuhi permintaan pasar karena terbatasnya lahan yang dimiliki. Selain perlu waktu yang cukup lama untuk mengubah lahan menjadi lahan organik, GLF juga secara konsisten memberlakukan proses produksinya secara organik, mulai dari pemuliaan bibit, tanah, hingga air yang dipakainya dijamin bebas pestisida.

Karena itu, Jo gencar mengajak para petani yang mempunyai areal berdekatan untuk membentuk kelompok-kelompok dan bernaung di bawah suatu perusahaan yang berbadan hukum sehingga bisa lebih menjamin produk yang dihasilkan benar-benar hasil pertanian organik sesuai dengan standar uji internal control system “Kalaupun perlu menggunakan pestisida, kami hanya memakai pestisida alami,” ujarnya menegaskan.

Jo dan Inge pun berbagai tugas. Ia lebih berkonsentrasi di bidang produksi, sedangkan Inge menangani pemasaran, serta aktif membina petani plasma untuk diajak bergabung. Seperti saat ini, GLF telah menggandeng 8 petani plasma dengan luas areal tidak kurang dari 7 ha. Mereka diajak bekerja sama memproduksi sayuran dan produk herbal organik lainnya. Selain itu, lewat petani plasma juga Jo rutin memasok empat jenis beras organik ke pasaran hingga 5 ton/bulan.

Selain di Bali, GLF pun memasok pasar di Surabaya, Jakarta hingga Singapura. “Pasar masih terbuka lebar,” ujarnya. Walaupun pasar masih terbuka, Jo tidak menampik bahwa persaingan di ranah ini cukup berat. Pasalnya, ada oknum pengusaha yang tidak konsisten menerapkan konsep pertanian organik untuk menekan harga. Selain pengusaha lokal, ada juga orang asing yang memakai label organik untuk produknya yang di lempar ke pasaran, tapi sumber produknya berasal dari lahan pertanian yang tidak terjamin. “Mereka hanya ingin mengeksploitasi pasar tanpa menjalankan misi,” kata Jo menyesalkan.

Selain itu, ketidapastian jaminan ecolabeling pemerintah juga dituding Jo menjadi penyebab ketidakpastian ketersediaan produk organik di pasaran. Namun, Jo tetap bisa bangga karena saat ini GLF merupakan pemasok terbesar sayuran organik bagi kalangan hotel, resto dan supermarket. Sayang, ia tidak mau merinci hotel atau resto mana saja yang sudah dipasoknya. Hanya saja, untuk supermarket, selain Carrefour dan Grup Tiara Dewata, produk GLF juga tersedia di hampir semua supermarket kawasan wisata Kuta dan Sanur.

Dawn Ellen, ibu rumah tangga asal Australia yang sedang asyik memilih sayur di rak kaca Bintang Supermarket di kawasan Seminyak, Kuta, mengatakan, makanan organik merupakan kebiasaannya sejak masih di Perth. Karena gemar memakan sayuran mentah seperti di negaranya, Dawn merasa lebih aman bila memilih produk-produk organik dibandingkan non-organik.

Menurut Dawn, kualitas dan jenis produk GLF yang tersedia di supermarket itu sangat bagus. Apalagi, sudah dikemas dalam ukuran kecil (rata-rata 200 gram). Ia mengaku sangat terbantu karena selalu mendapatkan produk yang segar. “Sangat lengkap,” katanya singkat. Meski demikian, dibandingkan harga sayuran non-organik, harga sayuran organik jauh lebih mahal.

Memang, Jo mengakui, dari segi harga, produk organik bisa 4-5 kali lipat lebih mahal dari produk non-organik. Ini karena biaya yang harus dikeluarkan untuk bercocok tanam organik mencapai dua kali lipat, sehingga rata-rata biaya yang dikeluarkan GLF mencapai Rp 130 juta/bulan. Menurutnya, GLF menerapkan kontrol mutu ketat terhadap produk-produknya. Hasil produksinya yang tidak lolos standar kriteria otomatis akan dipakai sebagai pupuk atau makanan hewan.

Makanya, kepada para pelanggannya, GLF memberi jaminan kepastian harga dan ketersediaan produk selama satu tahun ke depan. Karena itu, Jo menargetkan penjualannya tahun 2009 hanya sampai angka Rp 250 juta saja per bulan. “Kami tidak ingin tumbuh sendiri,” ujarnya.

Sekarang, Jo berobsesi menjadikan Bali sebagai cikal bakal perbaikan lingkungan karena konsep pertanian organik itu sebenarnya bukan hanya berguna untuk diri sendiri, tapi juga untuk memperbaiki lingkungan. Karena itulah, ia membuka lebar GLF bagi siapa saja yang berminat mengetahui seluk-beluk organik untuk berkunjung. “Kami jadikan GLF sebagai organic centre,” ungkapnya menginformasikan.

Makanya, berbeda dari kebanyakan kebun pertanian yang dikomersialkan, Jo tidak menjual produk pertanian organiknya ke pengunjung yang mendatangi langsung GLF, tapi hanya memberikan pembelajaran tentang seluk-beluk pertanian organik.

Sebagai organic centre, GLF juga menawarkan program outingdan gatheringbagi rombongan dengan menyediakan fasilitas indoor outdoor maksimal 500 orang. Program outingini, menurut Jo, dianggap bisa memberi subsidi silang untuk kelangsungan pertanian organiknya. Apalagi, di saat musim yang tidak menentu belakangan ini akibat perubahan harga BBM, flu burung hingga bom yang telah dua kali meledak di Bali. Ini menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang otomatis juga menurunkan permintaan pasar.

Karena itu, Jo mencoba makin gencar memasarkan ke pasar lokal lewat berbagai supermarket. Namun, ia mengaku perusahaannya tidak pernah merugi sejak mulai beroperasi, malah breakeven point berhasil dicapai pada tahun kedua. ”Organic living as a life style,” kata Jo mantap.***


Published on Majalah SWA